Selamat Datang di http://gondrezt.blogspot.com "Bersama Menghadapi Kejahatan Hutan dan Iklim" lakukan hal secara nyata dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggalmu.

Hutan Kota Pindah ke Pakal

Tak banyak destinasi wisata di kawasan Surabaya Barat. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Apalagi yang bernuansa outdoor. Namun, tahun ini di wilayah barat kian berkembang proyek pembangunan tempat rekreasi.

SURABAYA Selatan punya Kebun Binatang Surabaya (KBS) hingga Taman Bungkul. Di utara ada wisata religi Ampel hingga Pantai Kenjeran. Di kawasan timur terdapat kebun bibit hingga hutan mangrove Wonorejo yang mulai jadi ikon konservasi plus wisata lingkungan.

Di barat? Sulit rasanya mencari tempat wisata yang bernuansa alam. Dulu ada telaga alam yang biasa disebut sebagai Jurang Kuping. Tapi, kini pesonanya pudar. Danaunya sudah tak bisa dikenali. Aset tanahnya juga telah jatuh ke pengembang.

Sebenarnya, Pemkot Surabaya tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. Tahun lalu dinas pertanian mempunyai proyek hutan kota di Lakarsantri. Di kecamatan yang banyak tumbuh permukiman baru itu, pemkot akan mengemas sebuah tempat rekreasi yang bisa diakses masyarakat.

Sayang, proyek tersebut justru ditolak masyarakat sekitar. Mereka takut proyek pemkot itu awu-awu dan justru akan meng­hilangkan lahan bekas tanah kas desa (BTKD) untuk diberikan kepada pihak ketiga, seperti pengembang perumahan. Perwujudan rekreasi outdoor murah meriah itu pun kandas.

Hutan Lakarsantri boleh saja gagal. Namun, agaknya pemkot tetap akan melanjutkan proyek wisata lingkungan yang sudah lama direncanakan di Surabaya Barat. Hanya lokasinya yang dipindah. Hutan kota itu akan dibangun di Keca­matan Pakal. Di sana pemkot punya 6,5 hektare lahan BTKD.

Kepala Dinas Pertanian Surabaya Syamsul Arifin mengatakan, pemkot telah menyiapkan anggaran Rp 800 juta guna mewujudkan wisata hutan kota tersebut. Rencananya, hutan kota di Pakal itu juga punya konsep sama dengan hutan kota di Lakarsantri yang gagal.

Syamsul yakin nasib proyeknya tidak sama dengan di Lakarsantri. Sebab, pendekatan yang dilakukan pemkot memang berbeda. Untuk realisasi hutan kota tersebut, dinas pertanian akan melibatkan warga.

Pola kerja samanya adalah pemkot memanfaatkan lahan berkebun atau pertanian masyarakat. Sebab, di Pakal masih banyak warga yang menekuni bidang agrobisnis atau biasa disebut urban farming. Mereka berkebun, bertani, dan beternak sebagai mata pencarian.

"Kami sepakat mem­bangun hutan kota tersebut terintegrasi dengan pengem­bangan urban farming warga Sidorejo, Pakal," terang Syamsul. Warga Sidorejo selama ini tergolong sukses mengembangkan urban farming, seperti lele, nila, dan udang.

Integrasi itu dikembangkan dalam konsep wisata edukasi. Syamsul mencontohkan, masyarakat bisa datang menikmati udara dan pemandangan hutan kota sembari memancing atau memanen ikan, dan beternak sebagai mata pencarian.

"Kami sepakat membangun hutan kota tersebut terintegrasi dengan pengembangan urban farming warga Sidorejo, Pakal," terang Syamsul. Warga Sidorejo selama ini ter­golong sukses mengembangkan urban farming, seperti lele, nila, dan udang.

Integrasi itu dikembangkan dalam konsep wisata edukasi. Syamsul mencontohkan, masyarakat bisa datang menikmati udara dan pemandangan hutan kota sembari memancing atau memanen ikan.

Dia menambahkan, masyarakat yang datang ke lokasi tersebut juga bisa belajar ur­ban farming yang dilakukan warga. Sebab, mereka bertani dengan cara organik.

Menurut Ketua Kelompok Tani Sejahtera Suyatno, masyarakat tidak menolak kehadir­an proyek. Sebab, pemkot telah berjanji bahwa proyek itu terintegrasi dengan urban farming yang dilakukan warga.

Dia menjelaskan, selama ini petani mendapat kendala soal penjualan hasil urban farming. "Selama ini kami terkendala pasar untuk menjual hasil panen lele, nila, dan udang vaname," papar Suyatno.

Karena itu, nasib petani tergantung tengkulak sehingga harga jual hasil panen tidak terlalu bagus. "Makanya, kami berharap hutan kota itu bisa mendatangkan masyarakat kemari," ucapnya. (gun/zar/upi/c9/fid)

Source : http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=126239

Related Posts by Categories



2 comments:

blog sederhana said...

kasihan juga nasib para petani kita,,
kunjungan dari planet demam sob

fadly said...

iya kasihan ya...btw nice post n salam kenal!

Belajar berbagi untuk sesama dan jangan lupa komentarnya...