Selamat Datang di http://gondrezt.blogspot.com "Bersama Menghadapi Kejahatan Hutan dan Iklim" lakukan hal secara nyata dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggalmu.

Warga Pulau Yamdena Tolak Penebangan Hutan

Masyarakat Pulau Yamdena, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, berunjuk rasa di halaman Kantor Gubernur Maluku, Senin (25/1). Mereka menuntut pencabutan izin pemanfaatan hutan yang dinilai merusak lingkungan. Warga resah karena penebangan hutan dikhawatirkan akan menghilangkan lapisan tanah subur dan mengeringkan sumber-sumber air di Pulau Yamdena.

Ambon, Kompas - Warga Pulau Yamdena di Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, meminta Menteri Kehutanan dan Gubernur Maluku mencabut izin pemanfaatan hutan PT Karya Jaya Berdikari. Masyarakat khawatir penebangan hutan akan mengeringkan sumber air dan mengerosi lapisan tanah subur.
Protes disampaikan sekitar 50 warga Pulau Yamdena di Kantor Gubernur Maluku, Senin (25/1). Mereka menyerahkan bukti-bukti kerusakan lingkungan akibat penebangan hutan kepada gubernur. Warga juga menyerahkan dokumen penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang struktur tanah serta geologi Yamdena yang rawan terdegradasi jika hutan rusak.

”Berdasarkan penelitian IPB, ketebalan tanah di Yamdena hanya 20 sentimeter. Jika hutan ditebang, tanah akan tererosi dan sumber air mengering,” kata Yohannes Labobar, koordinator Forum Masyarakat Peduli Hutan Yamdena.

Warga mempertanyakan validitas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) untuk mengurus izin pemanfaatan hutan PT Karya Jaya Berdikari. Jika menggunakan hasil penelitian IPB, seharusnya hutan tidak boleh ditebang. PT Karya Jaya Berdikari memperoleh izin pemanfaatan hutan dengan areal konsesi 93.980 hektar pada 2009 dan mulai beroperasi pada 2010.

”Kami meminta gubernur merekomendasikan pencabutan izin HPH PT Karya Jaya Berdikari ke Menteri Kehutanan. Perusahaan itu telah menebang 6.000 batang pohon. Jika dibiarkan, hutan adat kami akan hilang dan masyarakat sengsara,” kata Yohannes.

Bagi warga Pulau Yamdena, demikian Yohannes, hutan menyatu dengan adat. Masyarakat menjaga kelestarian hutan karena merupakan sumber air bersih dan mencegah erosi. Warga memanfaatkan lahan untuk menanam ubi, singkong, jagung, kacang-kacangan, buah-buahan, kelapa, cengkeh, coklat, dan jambu mete.

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu berjanji akan meneruskan laporan masyarakat kepada Menteri Kehutanan.

Melkias Frans, Ketua Komisi B DPRD Maluku, yang menerima aspirasi warga Yamdena, menyatakan, pihaknya mendukung keinginan warga. Anggota Komisi B akan segera ke lokasi HPH untuk melihat kerusakan lingkungan.

”Awal 1990-an pernah ada perusahaan kayu di Yamdena. Warga mengusir perusahaan itu karena merusak lingkungan,” katanya.

Berdasarkan survei lembaga konservasi Burung Indonesia tahun 2008, kawasan hutan bekas tebangan di Yamdena berupa semak belukar dan rerumputan. Pada musim kemarau, areal itu rawan kebakaran hutan.

Hingga Senin malam, manajemen PT Karya Jaya Berdikari yang berkantor di Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, belum berhasil dihubungi. (ANG - kompas)

Source : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/26/03144512/warga.pulau.yamdena.tolak.penebangan.hutan

Related Posts by Categories



2 comments:

Ngeposting ni yee said...

kelakuan Warga Pulau Yamdena perlu di tiru, karena perbuatan mereka merupakan salah satu tujuan untuk mempertahankan hutan yang ada di Pulau Yamdena,,

Andi said...

Sikap kritis seperti warga Warga Pulau Yamdena, bahwa hutan adalah bagian dari adat sehingga hutan tersebut tidak boleh ditebang seenaknya menurutnya saya adalah benar, jangan seperti hutan adat di Nusa Tenggara mereka (pembalak) masuk dengan menebang seluruh pohon yang ada, yang tadinya hijau subur, sehingga mudah mendapatkan air sekarang tempat itu kering, gersang dan susahnya mendapatkan mata air. Sekarang siapa yang harus disalahkan bila telah terjadi hal tersebut. Pemerintah harus bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mengatasi hal ini dalam melestarikan hutan berserta isinya dan melakukan penghijauan terhadap hutan yang gundul/terbakar.

Belajar berbagi untuk sesama dan jangan lupa komentarnya...