Selamat Datang di http://gondrezt.blogspot.com "Bersama Menghadapi Kejahatan Hutan dan Iklim" lakukan hal secara nyata dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggalmu.

Pembalakan Hutan Bakau Semakin Marak


SUBANG--Pembalakan hutan mangrove (bakau) yang berlokasi di Pantai Pondok Bali Desa Mayangan Kec Legon Kulon Kab Subang, marak terjadi. Para penebang liar ini, merupakan warga yang berada di sekitar pantai. Akibat sering ditebangi, hutan bakau ini kondisinya semakin memprihatinkan. Saat ini, hutan yang sudah rusak itu seluas dua hektar.

Pembalakan liar ini, sangat meresahkan warga. Pasalnya, tanpa dilapisi tanaman bakau air laut sangat mudah masuk ke daratan. Karena sering dilanda banjir air laut, maka daratan ini menjadi terkikis (abrasi). Sampai saat ini, tingkat kerusakan akibat abrasi di Pantai Pondok Bali sudah sangat parah. Karena, jarak antara bibir pantai dengan pemukiman warga tinggal 50 meter lagi.

Jajaran kepolisian sektor (Polsek) Legon Kulon, berhasil menangkap pelaku pembalakan liar. Pelaku diketahui bernama Sartono (29), warga Dusun Buyut Batu RT 02/01 Desa/kec Sukasari. Dia ditangkap Selasa (27/10) sekitar pukul 08.00 WIB, saat sedang mengangkut kayu bakau dengan perahu.

Kapolsek Legon Kulon AKP Ibrahim Nandang, melalui Kanit Reskrim Aiptu Husen, menyebutkan, penangkapan terhadap tersangka pembalakan liar itu, merupakan hasil pengembangan atas laporan warga. Pasalnya, dalam sebulan terakhir, warga Desa Mayangan diresahkan dengan maraknya aksi penebangan pohon bakau. Padahal, pohon bakau tersebut dapat berfungsi sebagai penahan air laut.

''Kita tangkap pelaku, karena sudah meresahkan warga. Saat ini, pelaku masih dimintai keterangan di Mapolsek,'' ujar Husen.

Dikatakan Husen, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka baru dijerat Pasal 363 tentang pencurian, dengan ancaman lima tahun penjara. Selain itu, tersangka bisa dikenakan UU 41/1999 tentang pembalakan liar. Namun, undang-undang tersebut belum diterapkan terhadap tersangka. Karena, kasus ini masih dalam tahap pengembangan.''Kita menduga, masih banyak pelaku lainnya yang sering mencuri kayu bakau tersebut,'' papar Husen.

Menurut pengakuan tersangka, Sartono, pencurian kayu bakau yang berada di lahan milik Perhutani ini baru empat kali dilakukannya. Kayu-kayu tersebut, kata Sartono, digunakan untuk keperluan keluarganya. Tapi, karena terdesak kebutuhan ekonomi, kayu yang diambilnya itu terkadang dijual.''Baru satu kali, saya menjual kayu bakau itu. Sisanya, untuk menutupi kebutuhan rumah tangga,'' ujarnya sambil tertunduk lesu.

Dari tangan tersangka, petugas berhasil mengamankan tiga kwintal kayu bakau. Selain itu, kampak dan golok milik tersangka turut diamankan sebagai barang bukti. Tersangka mencuri kayu bakau ini, dari pohon mangrove yang masih produktif.

Di tempat terpisah, Camat Legon Kulon, Gunawan Haerudin, mengatakan, kerusakan hutan bakau yang berada di Pantai Pondok Bali sudah sangat parah. Dari luas hutan bakau yang ada, yaitu sekitar 10 hektare, sedikitnya dua hektare lahan sudah rusak, akibat pembalakan liar. Dampak dari hilangnya hutan bakau ini, daratan yang ada semakin terkikis air laut.

''Di Pantai Pondok Bali, sebelum terkikis abrasi daratannya mencapai tiga hektare. Sekarang ini, daratannya tinggal 1,3 hektare lagi,'' ujar Gunawan.

Penyebab utama terjadinya abrasi di kawasan ini, kata Gunawan, akibat hutan bakau yang ada di rusak oleh warga. Selain itu, berdasaran para ahli, saat ini air laut jauh lebih tinggi dengan daratan. Sehingga, bila terjadi air pasang, maka daratan yang paling dekat dengan bibir pantai menjadi korban abrasi.

Dikatakan Gunawan, dari tujuh desa yang ada di wilayahnya, dua desa yakni Mayangan dan Legon Wetan paling sering terkena banjir rob. Bahkan, daratan yang ada di dua desa ini, hampir setiap hari tergerus air laut.

''Warga yang ada di dua desa ini, sudah terbiasa rumahnya tergenangi air laut, setiap pagi dan sore hari,'' tutur Gunawan.

Disebutkan dia, untuk mencegah abrasi ini, diperlukan anggaran yang cukup besar. Sehingga, kata dia, rehabilitasi daratan yang terkikis air laut ini, menjadi kewenangan pemerintah pusat. Tapi, sampai saat ini belum ada upaya yang kongkret untuk mencegah abrasi.

Terkait dengan maraknya pembalakan liar, pihaknya telah melakukan himbauan dan teguran kepada warga. Namun, karena terdesak kebutuhan penebangan liar ini tak bisa dihentikan. Bahkan, saat ini warga semakin pintar dalam mencuri kayu bakau. Untuk mencegah kerusakan hutan bakau semakin parah, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat berwajib. Pasalnya, yang bisa menindak para pencuri kayu adalah institusi kepolisian. win/kpo

Source : http://www.republika.co.id/berita/85166/Pembalakan_Hutan_Bakau_Semakin_Marak


Related Posts by Categories



0 comments:

Belajar berbagi untuk sesama dan jangan lupa komentarnya...